Menkeu Purbaya Tahan Rencana Turunkan PPN: “Turun 1 Persen, Negara Hilang Rp70 Triliun!”

RBDCOTAX, Jakarta:Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku tak mau gegabah menurunkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Meski ide itu sempat menggebu sebelum ia menjabat, kini setelah memegang langsung kendali keuangan negara, pandangannya berubah total.

“Begitu saya jadi menteri keuangan, baru tahu, setiap 1% penurunan tarif PPN, negara kehilangan Rp70 triliun. Wah, rugi juga nih,” ujar Purbaya sambil tersenyum saat berbicara dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (28/10/2025).

Purbaya tak menampik, keinginannya menurunkan tarif pajak masih tetap ada. Namun, ia menegaskan keputusan itu harus berdasar kalkulasi matang, bukan sekadar ambisi populis. “Kita pikir-pikir dulu. Saya ingin tahu dulu seberapa kuat kemampuan kita mengumpulkan pajak dan cukai kalau sistemnya diperbaiki,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah kini tengah fokus memperkuat sistem administrasi perpajakan agar penerimaan negara bisa lebih akurat diukur. Dari situ, baru bisa diputuskan kapan dan seberapa besar ruang fiskal memungkinkan penurunan tarif PPN dilakukan tanpa mengganggu defisit.

“Saya perbaiki dulu sampai triwulan dua tahun depan. Kalau sudah tahu potensi riilnya, baru saya bisa hitung: kalau tarif diturunkan, berapa pendapatan yang berkurang dan berapa dampaknya ke ekonomi,” jelasnya.

Meski berhati-hati, Purbaya mengaku target penurunan PPN sudah masuk dalam rencana strategisnya sejak awal menjabat. Namun, ia sadar tanggung jawab menjaga stabilitas fiskal jauh lebih besar dari sekadar memenuhi janji politik.

“Itu sudah di atas kertas, tapi saya harus hati-hati. Saya baru dua bulan menjabat, belum bisa sembarangan,” kata Purbaya.

Dengan gaya santai namun penuh kalkulasi, Purbaya menegaskan dirinya bukan tipe menteri yang berani berjudi dengan angka-angka. “Saya bukan koboi fiskal. Saya pelit dan hati-hati. Kalau salah langkah, defisit bisa tembus di atas 3%. Bahaya,” tegasnya.

Purbaya menutup pernyataannya dengan nada realistis bahwa menjaga keseimbangan fiskal tak kalah penting dari keinginan memberi stimulus ekonomi. “Turunkan pajak boleh, tapi jangan sampai negara goyah,” ujarnya.