
RBDCOTAX, Jakarta: Industri otomotif nasional masih mencari momentum untuk kembali melaju. Sepanjang tahun berjalan, pasar kendaraan bermotor belum menunjukkan akselerasi berarti, membuat pelaku usaha menilai insentif fiskal tetap menjadi “mesin starter” yang dibutuhkan agar industri kembali bergerak.
Di tengah tantangan daya beli dan ketidakpastian ekonomi, peran pemerintah dipandang krusial untuk menjaga denyut produksi, distribusi, hingga keberlangsungan rantai pasok otomotif dari sektor hulu sampai hilir. Tanpa stimulus yang tepat sasaran, pemulihan dikhawatirkan berjalan lebih lambat.
Marketing Director PT Toyota-Astra Motor, Jap Ernando Demily, menilai kebijakan insentif terbukti efektif ketika industri berada dalam fase sulit. Ia mengingatkan keberhasilan relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) pada 2021 yang kala itu mampu mengangkat penjualan mobil secara signifikan setelah pasar terpukul pandemi.
“Jika melihat kondisi sekarang, pasar belum menunjukkan pertumbuhan positif secara tahunan. Intervensi dari para pemangku kepentingan masih sangat dibutuhkan agar produksi dalam negeri tetap terjaga dan industri otomotif bisa dibangun secara menyeluruh,” ujar Ernando, Senin (22/12/2025).
Menurutnya, situasi saat ini memiliki kemiripan dengan fase pemulihan pascapandemi, ketika permintaan belum sepenuhnya pulih dan industri membutuhkan dorongan awal agar kembali bergerak. Dalam konteks tersebut, insentif fiskal bukan sekadar stimulus jangka pendek, melainkan alat strategis untuk menjaga kesinambungan industri.
“Sejarah menunjukkan insentif fiskal adalah kebijakan krusial untuk menstimulasi pasar. Insentif PPnBM 2021 menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan fiskal dapat mempercepat pemulihan industri otomotif,” paparnya.
Lebih jauh, Ernando menekankan pentingnya evaluasi arah insentif yang kini difokuskan pada kendaraan elektrifikasi. Ia mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak hanya mendorong penjualan sesaat, tetapi juga memperkuat fondasi industri nasional dalam jangka panjang.
“Kita perlu melihat dampaknya secara menyeluruh. Idealnya, insentif tidak hanya menggerakkan pasar, tetapi juga memastikan pertumbuhan industri otomotif nasional berjalan seiring dengan meningkatnya permintaan masyarakat,” ujarnya.
Nada serupa disampaikan oleh Honda. Marketing Director PT Honda Prospect Motor, Yusak Billy, menyebut insentif pemerintah masih menjadi faktor penting yang membantu konsumen mengambil keputusan pembelian, terutama di tengah pasar yang melemah.
“Insentif dapat menjadi pendorong permintaan sekaligus mempermudah konsumen dalam memutuskan pembelian kendaraan,” kata Billy.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa target penjualan hingga satu juta unit tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi makro dan daya beli masyarakat. Dalam situasi pasar yang belum solid, insentif dinilai berperan menjaga ritme industri agar tidak kehilangan momentum.
“Pelaku industri tentu berharap kebijakan pemerintah ke depan disusun dengan pertimbangan yang komprehensif, sehingga selaras dengan tujuan jangka panjang industri otomotif nasional dan pertumbuhan ekonomi,” tutupnya.
Dengan pasar yang masih tertahan, suara pabrikan semakin menegaskan satu pesan: insentif fiskal bukan sekadar stimulus, melainkan fondasi penting agar industri otomotif nasional kembali tancap gas.

